MERAMU HASIL BELAJAR PEMBEKALAN CPP HARI KE-5

MERAMU HASIL BELAJAR MANDIRI

PEMBELAJARAN HARI KE-5 PEMBEKALAN CALON PENGAJAR PRAKTIK

Nama: YULIANI

CPP Angkatan 8 Kab. Banyuwangi

Pemahaman tentang filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang menjadi landasan transformasi pendidikan Indonesia yang berpihak pada anak, sebagai berikut:

·         Makna dari kata “menuntun”

Pendidikan yang dapat menuntun segala kodrat yang di miliki oleh anak agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Konsep pendidikan ini menjadi sangat esensial karena sesungguhnya pendidikan diharapkan menuntun (bukan memaksakan) kodrat yang sudah ada pada diri anak agar dapat dikelola, dikembangkan dan diberdayakan agar dapat memberi manfaat baik bagi dirinya sendiri dan lingkungannya.

·           Peran menuntun sesuai sistem among 

Filosofi Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan dan kebudayaan, tentunya yang sesuai dengan pendidikan di Indonesia diantaranya adalah sistem among, yaitu metode pengajaran yang berjiwa kekeluargaan yang berdasar kodrat alam dan kemerdekaan. Guru sebagai “Pamong” atau “Pemomong” atau “Panutan” bagi siswanya sehingga siswa merasa dilindungi, aman, dan mempunyai panutan untuk dicontoh. Dalam hal ini interaksi dengan siswa, guru dan warga sekolah sangat baik apabila guru benar-benar sebagai “Pemomong”, karena sifat ini memberikan rasa aman, nyaman sehingga siswa senang belajar. Misalnya dalam sekolah atau kelas mengucapkan salam kepada semua siswa sebelum dan setelah pembelajaran. Selain itu juga hal positif yang dapat dilakukan adalah berdoa sebelum dan sesudah belajar serta budaya salaman. Alhamdulillah pada masa pandemi diganti dengan “Namaste” yaitu mengatupkan kedua tangan di depan dada, kini salaman sudah dapat dibudayakan lagi kepada sesama siswa, guru, kepala sekolah, warga sekolah, bahkan dengan siapapun apabila bertemu. 

·         Makna dari “merdeka” 

Setiap individu dikarunia bakat dan minat yang berbeda, karena itu setiap individu dalam negara merdeka harus merdeka mengejar mimpi indah mereka tentang masa depan yang mereka cita-citakan. Setiap individu di negeri ini wajib berkontribusi dalam pembangunan bangsa melalui maksimalisasi talenta dan bakat mereka. 

Merdeka belajar adalah jembatan emas yang menghantarkan setiap individu untuk memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara dengan riang gembira. Merdeka untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari kemiskinan, dan keterbelakangan

·         Kodrat anak tentang bermain yang adalah sama dengan belajar

Bermain merupakan kodrat anak. menurut KHD, Permainan anak itulah pendidikan. Ki Hajar Dewantara (Pendidikan, halaman 241). Dalam hal ini pendidik harus memahami bahwa kodrat anak adalah bermain sehingga pembelajaran bisa diintegraskan dengan bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain.

·         Pendidikan yang berpihak / menghamba pada anak

Pendidikan yang berupaya memenuhi kodrat kebutuhan tumbuh kembang anak.Sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantar Bahwa yaitu " Menghamba pada anak " Pokok pendidikan harus terletak di dalam pangkuan ibu bapak karena hanya dua orang inilah yang dapat "berhamba pada sang anak" dengan semurni-murninya dan se-ikhlas-ikhlasnya, sebab cinta kasihnya kepada anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih tak terbatas (Karya Ki Hajar Dewantara, Pendidikan, halaman 382). Menghamba ini bukan berarti dapat diperlakukan semena- menanya, tapi pendidikan harus berorientsi pada kebutuhan anak sehingga anak dapat berkembang sesuai dengan minat dan bakatmya.

·         Konsep budi pekerti

Budi pekerti, atau watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga/semangat.Budi pekerti yang dimaksud adalah bahwa pendidikan bisa memanusikan manusia menuju perbuatan yang baik.

·         Anak bukan tabularasa

Teori tabula rasa dikenal sebagai sebuah teori yang menyatakan bahwa seorang anak adalah kertas kosong, tanpa coretan sama sekali, dan orang-orang di sekitarnya turut andil dalam memberikan coretan guna membentuknya menjadi bertulisan. Pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang sesungguhnya adalah “Anak bukan kertas kosong yang bisa digambar sesuai keinginan orang dewasa”. Seorang anak lahir dengan kekuatan kodrat yang masih samar-samar. Tujuan Pendidikan adalah menuntun (memfasilitasi/membantu) anak tersebut untuk menebalkan garis samar-samar agar dapat memperbaiki lakunya untuk menjadi manusia seutuhnya. (KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan)

·         Analogi petani untuk menjelaskan kodrat anak

Pandangan Ki Hadjar Dewantara mengenai padi diibaratkan olehnya seperti anak (murid) dalam melaksanakan pendidikan. Ibarat petani sebagai guru yang menyebarkan benih atau bibit padi, tidak bisa memaksakan tanaman padi menjadi tanaman lainnya. Hal tersebut juga dimaksudkan kepada anak-anak yang sudah mempunyai minat dan bakatnya masing-masing, tidak bisa dipaksa untuk menjadi apa yang diinginkan oleh guru atau orang tua untuk tujuan tertentu.Beliau juga menegaskan bahwa petani tidak boleh membedakan darimana asal padi, pupuk, dan hal lainnya, karena minat anak begitu beragam dan berbeda-beda, namun mempunyai hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang menjadi anak yang cerdas atas kemauannya sendiri.

·   Pemahaman tentang Pendidikan yang Memerdekakan menurut pemikir - pemikir yang selaras dengan pemikiran KHD dan menjadi acuannya (Metode Montessori dan Taman Anak Frobel)

Metode montessori adalah cara belajar yang berfokus pada kearifan anak.metode ini menawarkan pembelajaran langsung dengan praktikdan permainan kolaboratif,berbeda dari metode tradisional cenderung pasif.Pada kelas montessori anak-anak akan di berikan kesempatan untuk memutuskan apa yang mejadi mereka. Thenik belajar ala montessori kini banyak berkembang,metode montessori adalah sebuah sistem pendidikan yang membantu setiap anak meraih potensinya disemua bidang kehidupan. Metode montessori mengajarkan 5 bidang utama,mulai kemampuan berbahas,konsep matematika,budaya sensorik dan kemampuan sehari-hari.Metode montesseri akan membuat anak di latih untuk berkomunikasi. Da;am pembelajaran monttesori anak-anak diajarkn untuk mengantri sikap sopan santun,tata krama dan kebaikan,kemampuan ini akan melatih emosional intellagent mereka sehingga mereka akan lebih siap berada dilingkungan dan bersosialisasi.

Pendidikan yang di laksanakan saat ini selaras dengan apa yang diharapkan oleh KI Hajar Dewantara, di mana metode Montesori, Frobel dan Taman anak menyatakan bahwa dunia anak identik dengan bermain, dan di dalam bermain itu sesungguhnya seorang anak sedang belajar. di dalam bermain telah melatih kemampuan seorang anak baik kemampuan panca indra maupun kemampuan psikomotoriknya. hal inilah yang harus dipahami oleh seorang guru.

·         Kaitan filosofi dan prinsip pendidikan yang memerdekakan dengan tujuan pendidikan untuk membentuk profil Pelajar Pancasila

Pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara dinilai masih relevan untuk diterapkan pada dunia pendidikan saat ini. Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa tujuan dari pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggitingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Ki Hadjar Dewantara juga mengemukakan bahwa dalam proses menuntun, anak perlu diberikan kebebasan dalam belajar serta berpikir, dituntun oleh para pendidik agar anak tidak kehilangan arah serta membahayakan dirinya. Semangat agar anak bisa bebas belajar, berpikir, agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan.

Profil Pelajar Pancasila ini dicetuskan sebagai pedoman untuk pendidikan Indonesia. Tidak hanya untuk kebijakan pendidikan di tingkat nasional saja, akan tetapi diharapkan juga menjadi pegangan untuk para pendidik, dalam membangun karakter anak di ruang belajar yang lebih kecil. Pelajar Pancasila disini berarti pelajar sepanjang hayat yang kompeten dan memiliki karakter sesuai nilai-nilai Pancasila. Pelajar yang memiliki profil ini adalah pelajar yang terbangun utuh keenam dimensi pembentuknya. Dimensi ini adalah:Beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia; Mandiri;Bergotong-royong; Berkebinekaan global; Bernalar kritis; Kreatif. Keenam dimensi ini perlu dilihat sebagai satu buah kesatuan yang tidak terpisahkan. Apabila satu dimensi ditiadakan, maka profil ini akan menjadi tidak bermakna.


Terima Kasih 

Banyuwangi, 11 Februari 2023 --- yulietuiyung-belajarbarengbuguru---


Comments

Popular posts from this blog

Jurnal Refleksi Minggu Ke-18 (Model 4P)